KARUT-MARUT DUNIA PENDIDIKAN SAAT INI APAKAH MUTLAK TANGGUNG JAWAB GURU (?) “Sebuah Renungan di Hari Guru”

KARUT-MARUT DUNIA PENDIDIKAN SAAT INI APAKAH MUTLAK TANGGUNG JAWAB GURU (?)
“Sebuah Renungan di Hari Guru”

Oleh: Ahmad Imron Fananie
(Guru BK SMKN 12 Malang)

Dunia pendidikan saat ini sering mendapat sorotan. Komentar-komentar negatif sering kita dengar. Bagi kita yang berprofesi sebagai pendidik selalu dalam posisi yang banyak salah. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan dunia pendidikan saat ini (?) Apa yang membuat masyarakat berkomentar miring terhadap dunia pendidikan(?)

Sebagai pendidik kita tidak perlu berteriak membantah dan membela diri apalagi melempar kesalahan kepada pihak lain. Mari kita berpikir secara dingin, jernih, dan positif.

Sejenak mari kita berpikir mundur menengok dunia pendidikan sebelum tahun 2000-an. Tolok ukur keberhasilan produsen terletak pada kualitas produk yang dihasilkan; begitu pula sebagai pendidik, keberhasilannya dilihat dari kualitas out put dari lembaga pendidikan tersebut.

Banyak pendapat di masyarakat mengatakan, “Anak sekarang tidak seperti anak zaman dulu!” Banyak hal yang bisa dicontohkan misalnya, dulu anak kalau dinasihati orangtua diam dan menunduk tapi sekarang malah banyak menjawab dengan berbagai alasan. Kalau dulu seorang anak menurut dengan keinginan orangtua tapi sekarang orangtua yang banyak menuruti kemauan anak yang kadang dengan segala ancaman. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

Ada juga yang berpendapat karena pelajaran P4 sekarang ditiadakan, jadinya anak didik yaa seperti sekarang ini. Apa yang terjadi dengan produk pendidikan sekarang ini sebenarnya tidak lepas dari semua elemen masyarakat, di antaranya orangtua, masyarakat sekitar, teknologi, kebijakan pemerintah, dan tentulah pelaku pendidikan itu sendiri.

Proses pendidikan yang diterima anak pertama kali yaitu dari orangtua semenjak dia dalam kandungan. Jadi bagaimana orangtua memperlakukan anak, itulah yang akan membentuk karakter anak tersebut.

Menjelang usia remaja anak sudah mengenal lingkungan pergaulan di luar. Anak sudah mulai mengikuti pergaulan di luar rumah. Hal ini tidak masalah, yang terpenting adalah orangtua bisa memastikan bahwa lingkungan pergaulan anak di luar betul-betul lingkungan yang sehat.

Peran serta pemerintah adalah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang memperhatikan pendidikan karakter anak, misalnya dengan memfilter media-media dan juga tindakan meminimalisasi tempat-tempat berkumpulnya anak-anak yang salah pergaulan.

Masyarakat juga harus peduli dengan keadaan sekitar, termasuk kehidupan anak remaja di lingkungan masyarakat tersebut.

Para pendidik yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap sikap dan prilaku anak remaja saat ini juga harus introspeksi dan berbenah. Tidak bisa dipungkiri bahwa guru sekarang dengan guru zaman dulu juga banyak perbedaan; baik dari motivasi, pola pikir, ataupun pola hidup yang tentunya berpengaruh terhadap kinerjanya.

Guru zaman dulu terkesan sederhana dengan penghasilan yang pas-pasan. Namun itu semua tidak mengurangi semangat, loyalitas, dan totalitas dalam mendidik. Keikhlasan dalam mendidik sangat dirasakan oleh anak didiknya. Terbukti, walaupun guru memukul, bisa diterima oleh anak didik maupun orangtua; karena mereka percaya dengan ketulusan para pendidiknya.

Ada juga guru yang harus mempunyai pekerjaan sambilan tetapi tidak mengurangi waktu dan semangat yang tulus dalam mendidik. Sedangkan guru zaman sekarang, ada yang berpikir bahwa tugas guru itu hanya mengajar, setelah itu selesai. Kalaupun ada tugas-tugas tambahan, itupun harus ada penghasilan tambahannya juga.

Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan guru, banyak orang yang ingin menjadi guru, yang akhirnya banyak guru hanya sekedar profesi. Selama guru itu hanya dianggap sebagai profesi, maka akan banyak guru yang tidak berjiwa pendidik; dan ini akan sangat berpengaruh terhadap produk pendidikan.

Anak remaja sebagai generasi penerus bangsa saat ini sangat membutuhkan pendidikan bukan pengajaran; sangat butuh dididik bukan diajar.

Dengan meningkatnya kesejahteraan, guru semakin disibukkan dengan fokus terhadap penggunaan penghasilan lebihnya bukan terhadap anak didiknya.

Bisa dipastikan anak remaja sekarang membutuhkan figur teladan baik di rumah, di masyarakat, dan di sekolah. Anak remaja zaman sekarang yang semakin kritis akan semakin kencang meneriakkan mana guruku yang bisa DIGUGU dan DITIRU. Dua kata yang ditanamkan sejak dulu kepada para guru yang punya nilai filosofi sangat tinggi.

Mari kita kembalikan posisi guru kembali seperti dulu yang tulus dalam mendidik, bisa dijadikan teladan agar kita mendapatkan KEBERKAHAN.

Selamat Hari Guru!
Semoga kita bisa menjadi guru yang layak DIGUGU dan DITIRU!
Tidak ada kata BOSAN dan PUTUS ASA dalam mendidik.
Semoga kita selalu mendapat KEBERKAHAN dalam mendidik!
Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *