Nasi Uduk – Bagian 4

Hari ini amburadul, tapi gua dapet invite di café temen gua, Lejar. Dia lulusan IT juga. Katanya Fandi juga diajak. Yaudah cus aja sekalian beli kuota. Cafenya lumayan bagus setelah gua masuk dengan nuansa desa yang modern. Epik bener ide ni orang.

Gatau kenapa temen gua satu ini, Si Lejar. Milih buku café dan pada kerja kantoran yang lumayan cuannya dan pasti diakui mahir karya lulusan IT. Lejur gak pernah jelasin alasannya ke gua. Yang pasti itu cita – citanyayang udah terwujud iya ngga ? atau mungkin disuruh buka usaha aja ? dahlah ga usah nebak – nebak hidup orang..

Lejar berada di jajaran barista dengan menggunakan celemek hitam, kaos warna biru dan topi bebek. Ia sedang memenyaring kopi di dalam mesin kopinya. Sambil menunggu serangannya selesai, ia mengocok – ocok di gelas kocok. Mungkin isinya krim kocok.

“Woy broh gimana usahanya ?” mulai gua sambil berjabat tangan

“Lancar dah, aman aja” respon Lejar. “Kalo elu ?”

“Gua mah usahanya gampang” kata gua dengan membuang muka. “Usaha nyari kerja bos … “ canda gua

“ beh bias ae lu” ujr Lejar. “Fandi OTW kesini “ ujar Lejar lagi

“ugh … tanda keramat gua cuy, mantra yang terlalu mudah” kata gua ngasal

“hah ?? keramat ??” kembali Lejar mengambil kopi saringannya. “kayak apa tu ?” Tanya Lejar

“bukannya dia kerja?, sekarang jam istirahat siang noh” kata Lejar memutar bola mata dan arlojinya”

“Asal lu tahu fandi senasib ama gua” gua menyeruput kopi hasil buatan Lejar

“Masa iya?”

Was wes wos blah blah blah cot cot cot. Lejar terlalu banyak negbacot dan gua mngalihkan topic bicara tentang kerja. Kasihan juga fandi kupingnya panas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *