Fanatisme Luar, Picu Lunturkan Jiwa Nasionalisme Bangsa Dikalangan Siswa Melalui Media Sosial

Penulis : Dava Prasetya (X DKV 1)

Media sosial merupakan suatu sarana baru untuk berkomunikasi dan bersosialisasi di dunia maya tanpa bertemu secara fisik atau langsung. Berbicara soal media sosial yang merupakan salah satu media persebaran informasi yang sangat cepat di era digital sekarang ini tidak akan lepas dari berbagai macam isu – isu yang terjadi didalamnya. Salah satu isu yang ingin saya bahas disini adalah isu kebhinnekaan di Indonesia yang terjadi di media sosial. Dikutip dari Goodstats.id pengguna media sosial di indonesia tercatat sebanyak 167 juta pengguna aktif media sosial, yang setara dengan 60,4% dari total populasi. Sebanyak 78,5% dari pengguna internet pasti menggunakan paling tidak 1 akun media sosial. Dengan pengguna sosial sebanyak itu pastinya isu – isu yang timbul sangatlah banyak.

Sering ditemui sosial media dijadikan sarana untuk menanam kebencian  terhadap orang lain dengan mengunggah kata-kata atau gambar yang tidak etis sehingga terbangun rasa tidak senang dan benci terhadap seseorang, terutama mereka yang memiliki ketenaran seperti influencer. Media sosial dijadikan sarana untuk mencaci maki bahkan memprovokasi orang lain. Perilaku  ini sangat berbahaya apalagi yang menyangkut kelangsungan hidup bernegara. Di berbagai forum dimana kelompok-kelompok yang masih menggunakan perbedaan dan keragaman sebagai dasar bagi konflik dan diskriminasi terhadap kelompok lain, menyuarakan dan menyebarkan pandangannya sembari bersembunyi di balik perlindungan anonimitas.

Setiap anak bangsa seharusnya melihat keberagaman bukan sebagai masalah, tetapi sebagai modal untuk memajukan bangsa. Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh kita adalah dengan tidak mudah tersulut emosi atau dapat menahan diri dengan cara memposting atau membagikan hal hal yang bernada persatuan atau positif di media sosial. Kita sebagai generasi penerus yang akan memimpin negeri ini kelak juga jangan mudah termakan hoax yang dapat memecah belah. Kita harus menelaah kembali informasi yang kita dapat karena semua yang berada di media sosial dapat dimanipulasi.

Media sosial juga dapat menjadi sarana persebaran budaya, terutama budaya luar. Sering kita jumpai remaja – remaja di Indonesia menerima banyak sekali informasi tentang budaya – budaya asing, seperti yang sedang tren beberapa diantaranya adalah Kpopers, cosplayer dan vtuber bertema jejepangan. Tentu hal ini bukanlah hal yang negatif karena melalui media sosial kita juga dapat belajar ternyata di dunia ini banyak berbagai macam budaya dari setiap negara dengan masing – masing keunikan yang dimiliki. Namun, sangat disayangkan kebanyakan anak bangsa kita malah mengadopsi budaya – budaya  tersebut secara berlebihan sehingga menjadikan mereka menjadi fanatik dan meninggalkan budaya asli Indonesia yang seharusnya jauh lebih mereka kenal karena sudah sejak kecil mendampingi mereka.

Fanatisme sendiri merupakan kondisi di mana seseorang menjadi terobsesi akan suatu hal, seperti ajaran agama, politik, budaya luar, dan lain – lain. Menurut Winston Churchill yang dikutip melalui wikipedia.id bahwa ”seorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan tidak akan mengubah haluannya. Seseorang yang fanatik dapat dikatakan memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan”. Fanatisme inilah yang sering kali memecah belah bangsa kita, perbedaan sudut pandang dan salah persepsi inilah yang diutarakan melalui media sosial sering dijadikan oknum – oknum tidak bertanggung jawab untuk menggiring opini masyarakat bahwa budaya Indonesia pantas digantikan oleh budaya asing, karena budaya luar dianggap jauh lebih modern dan keren dibandingkan budaya lokal yang tampak kuno dan ketinggalan zaman.Jika diteruskan maka bangsa Indonesia akan kehilangan identitas dan keunikan bangsa yang membedakan kita dengan negara lain.

Budaya asing memang sangat membantu kita dalam bersaing di dunia global. Namun perlu digaris bawahi bahwa sebagai anak muda Indonesia kita harus tetap mempertahankan budaya atau keunikan Indonesia agar budaya – budaya kita tidak tertindas oleh budaya luar yang sangat beragam yang dapat mempengaruhi anak muda zaman sekarang terutama melalui smartphone atau media sosial. Akan sangat disayangkan perjuangan para leluhur kita yang susah payah melepaskan diri dari penjajahan bangsa asing, sia – sia karena generasi muda seperti kita malah mengadopsi budaya – budaya asing dan justru lebih dekat dengan budaya asing daripada budaya – budaya lokal dan menghilangnya nilai – nilai luhur serta jiwa nasionalisme bagi bangsa sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *