Pak Joko dan Cara Melihat Sekolah: Pola Dulu, Program Kemudian

Ruang kepala sekolah SMKN 12 Malang cukup tenang. Kepala SMKN 12 Malang yang baru, Joko Santoso, S.Pd., M.T., tidak membuka pertemuan dengan daftar instruksi panjang. Dalam wawancara bersama SmechaPost, beliau justru menekankan satu pola: sebelum memperbaiki hasil, benahi dulu kebiasaan dan lingkungan sekolah.

Bagi Pak Joko, program besar seperti Adiwiyata Mandiri, pembenahan sarana dan prasarana, teaching factory, hingga penguatan jurnalistik dan ibadah bukan tujuan akhir. Program hanyalah alat untuk membangun kondisi.

“Adiwiyata itu bukan sekadar sekolah bersih, tapi proses membangun kebiasaan seluruh warga sekolah,” ujar Pak Joko.

Pola yang sama beliau terapkan pada kedisiplinan. Menurutnya, disiplin tidak hanya soal datang tepat waktu. Disiplin adalah fondasi bagaimana guru mengajar, siswa belajar, dan warga sekolah berkomunikasi serta menjalankan kewajiban tanpa harus selalu diingatkan.

Uniknya, beliau menilai bahwa inovasi tidak harus dimulai dari hal besar. Kegiatan sederhana seperti pentas seni, kebersamaan, atau lomba tumpeng yang memanfaatkan kompetensi kuliner bisa menjadi inovasi jika mampu membuat siswa terlibat aktif.

Prinsipnya, rapikan fondasi dulu, baru bangun lantai berikutnya,” tegas Pak Joko.

Soal prestasi, Pak Joko menegaskan prestasi dimulai dari kompetensi. Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dan kompetisi lain penting bukan karena pialanya, melainkan karena kompetensi di baliknya yang akan menentukan pilihan siswa setelah lulus, baik bekerja, berwirausaha, maupun melanjutkan pendidikan.

Dengan delapan kompetensi keahlian di SMKN 12 Malang, ia melihat peluang besar kolaborasi lintas jurusan.

“RPL, TKJ, DKV, BCF, Kuliner, AKL, TKR, TSM. Delapan jurusan ini kalau dikolaborasikan hasilnya bisa luar biasa,” kata Pak Joko.

Menurutnya, siswa TKJ bisa berkolaborasi dengan DKV, BCF dengan Kuliner, TKR dengan TSM, dan AKL dengan semua jurusan untuk urusan pembukuan, karena dunia kerja nyata hampir selalu membutuhkan lebih dari satu kompetensi.

Dalam pengelolaan sekolah, Pak Joko memandang aturan sebagai pedoman, bukan penjara. Aturan penggunaan anggaran harus tetap ditaati sesuai ketentuan, namun penerapannya perlu melihat tujuan awal.

“Jangan sampai formalitas menambah beban yang tidak perlu. Kalau ada persoalan di lapangan, sampaikan kepada pihak yang berwenang,” ujar Pak Joko.

Pak Joko sendiri bukan orang baru di pendidikan vokasi. Sebelum bertugas di SMKN 12 Malang sejak April 2026, beliau pernah mengabdi di SMKN 1 Batu dan SMKN 9 Malang.

Baginya, target pengembangan SMKN 12 Malang ke depan mencakup tiga hal sekaligus: akademik, non-akademik, dan spiritual. Dari pola kecil hingga program besar, cara pandang ini menunjukkan bahwa perubahan sekolah dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *